Kenangan masih basah (Part 2) – Sayap di Langit Rindu

'Mak, saya dah belajar terbang..'

Tahun berganti. Pohon mangga di tepi laman sudah lama tumbang dimakan rayap, tangga kayu tempat aku jatuh pun telah reput dimamah masa. Namun di satu pagi yang hening, seekor burung pipit melintas di hadapan jendela rumah ini. 

Bayang itu datang tanpa diundang. Suara emak, lembut seperti dulu, “Kalau nak terbang… belajar dulu macam burung kecil tu.” Ketawa kecilnya terngiang, ketawa yang pernah membungkus luka di lengan dan luka di hati. 

Burung itu hinggap di pagar, menggeleng-geleng kepalanya, lalu terbang semula. Seolah membawa pesan dari alam 'sana' bahawa emak masih mendoakan aku, masih mengajar aku untuk berani melawan angin kehidupan. 

Aku tersenyum dalam sendu, memandang langit yang luas. “Mak… saya dah belajar terbang,” bisikku perlahan. 

Mungkin tak setinggi burung, tapi cukup untuk sampai ke ruang doa, di mana aku yakin… pelukan emak masih menanti di alam abadi.

Subscribe to receive free email updates: