Assalamu'alaikum. wr.wb. Izin bertanya para guru yang mulia: Bagaimana cara membedakan mana idhofat dan sifat, saya sering keliru? Terima kasih banyak para Guru, yang mau berkenan menjawab. Wassalamu'alaikum.wr.wb. [Ahmad Rana].
JAWABAN :
Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Secara singkat susunan sifat mausuf harus sama dalam ma'rifat dan nakirohnya، i'robnya mudzakkar atau muannatsnya. Jadi kalau mausufnya memakai AL maka sifatnya juga memakai AL dst.... seperti رب رجل كريم
Sedangkan susunan idhofah bebas. Bisa jadi mudhofnya mudzakkar tapi mudhof ilehnya muannats.. seperti يوم الاخرة tidak harus ايام الاخرة . Lebih jelasnya cara membedakan antara susunan na’at (sifat) dan mudhof ilaih (idhofah) dapat anda perhatikan melalui beberapa ketentuan utama dalam kaidah ilmu nahwu sebagai berikut:
1. Jenis kata yang kedua
Ini adalah kunci utama untuk membedakan keduanya. Jika kata yang kedua berupa isim shifat (kata yang menunjukkan sifat) seperti isim fa’il, isim maf’ul, sifat musyabbahah, atau isim tafdhil, maka susunan tersebut kemungkinan besar adalah na’at. Namun, jika kata kedua bukan berupa isim shifat, maka dapat dipastikan bahwa susunan tersebut adalah idhafah.
Contoh na’at: رَجُلٌ عَالِمٌ (Seorang laki-laki yang pintar).
Contoh idhafah: غُلَامُ زَيْدٍ (Pembantu Zaid).
2. Kesesuaian alif lam dan tanwin
Dalam susunan na’at, kata kedua wajib mengikuti kata pertama dalam hal kejelasan (ma’rifah atau nakirah). Jika kata pertama menggunakan alif lam (ma’rifah), maka kata kedua juga harus menggunakan alif lam agar serasi.
Contoh: الْبِئْرُ الْعَمِيْقُ (Sumur yang dalam itu).
Sedangkan dalam susunan idhafah, kata pertama yang disebut mudhaf memiliki aturan tidak boleh menggunakan alif lam dan tidak boleh pula menggunakan tanwin.
Contoh: كِتَابُ الطَّهَارَةِ (Kitab thaharah).
3. Hukum i’rab kata kedua
Pada susunan na’at, i’rab kata kedua selalu mengikuti i’rab kata pertama. Jika kata pertama rafa’, maka na’at ikut rafa’. Jika nashab, maka ikut nashab. Jika jer, maka ikut jer.
Contoh: مَرَرْتُ بِزَيْدٍ الْعَاقِلِ (Saya berjalan bertemu Zaid yang berakal).
Pada susunan idhafah, kata kedua atau mudhaf ilaih hukumnya selalu dibaca jer (majrur) secara permanen.
Contoh: خَاتَمُ حَدِيْدٍ (Cincin besi).
4. Makna dan terjemahan
Na’at secara bahasa adalah sifat yang berfungsi menjelaskan atau menyempurnakan makna isim sebelumnya. Dalam bahasa Indonesia, na’at biasanya diterjemahkan dengan tambahan kata yang.
Contoh: جَاءَ الرَّجُلُ الْأَدِيْبُ (Telah datang laki-laki yang beradab).
Idhafah adalah penggabungan dua isim menjadi satu kesatuan makna yang tidak terpisahkan. Susunan ini biasanya menyimpan makna kepemilikan (milik), asal bahan (dari), atau keterangan waktu dan tempat (di dalam).
Contoh makna milik: مِفْتَاحُ الْجَنَّةِ (Kunci surga/milik surga).
Contoh makna asal bahan: بَابُ سَاجٍ (Pintu kayu jati/dari kayu jati).
Demikian penjelasan cara membedakan antara sifat dan idhofat berdasarkan sumber kaidah nahwu, semoga dapat membantu anda agar tidak lagi keliru.
Wallohu a'lam. [Abd Al Fariqoh, Alif Jum'an].
LINK ASAL :